Lebaran di Brisbane

lebaran di brisbane2

Walaupun telat beberapa minggu, saya tetap mau mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438H Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin ya teman-teman.

Tahun ini Alhamdulillah dapat pengalaman baru, lebaran nggak di Indonesia. Sebelumnya bener-bener belum pernah lebaran di negeri orang. Kalaupun bepergian ke luar negeri pun selalu diusahakan nggak pas ramadhan, apalagi lebaran.

Basically ramadhan di negeri orang nggak beda jauh sih rasanya sama di Indonesia. Karena bertepatan dengan winter di Brisbane, jadi disini kita puasa pas 12 jam. Nggak beda jauh ya sama di Indonesia. Subuh sekitar jam 5.08 – 5.12, dan buka sekitar jam 16.52 – 16.55. Winter nya Brissie juga sangat menyenangkan untuk anak tropis seperti saya, dinginnya masih bersahabat, sinar matahari juga Alhamdulillah masih sangat generous. Jadi masih nyaman banget untuk puasa.

Bedanya cuma disini nggak nungguin bedug adzan maghrib untuk buka, nggak bisa dengan mudahnya beli takjil di pinggir jalan, nggak ada acara sahur di TV, dan tentunya nggak berbuka-puasa atau sahur bareng keluarga.

lebaran di brisbane

Positifnya, saya jadi mau nggak mau belajar masak bikin macem-macem. At least untuk sedikit mengobati kangen Ramadhan di Indonesia aja. Terutama pas lebaran, saya jadi nyobain masak berbagai macam menu lebaran seperti ketupat sayur, rendang, sambel goreng. Thanks to Asian supermarket yang punya semua bahan-bahannya untuk menu diatas.

The perks of living in a country with the multicultural population, I guess 🙂

By the way, lebaran kemarin pas banget dengan winter break disini. Pak suami libur kurang lebih 2 bulaan. Selain city tour dengan keluarga yang berkunjung, kita juga mau jalan-jalan ke beberapa tempat. I’ll make sure to write it all here yaa

sign

 

 

Advertisements

Coffee Time Without Upsetting My Stomach

coffee-break-1291381_1920

I am not sure exactly when I started to love coffee. Walaupun bukan coffee addict, tapi dalam sehari saya pasti nyari kopi paling tidak satu gelas. Dulu, awal-awal saya mulai menikmati kopi, setelah itu pasti sakit perut. Apparently, my stomach is not into coffee as much as my tounge does.

Saya bukan penderita maag, tapi sepertinya kondisi perut saya memang lumayan “asam”(padahal suka nya sama yang asam-asam seperti jeruk, lemon dll :p). Sempat diberitahu teman, kalau mungkin perut saya nggak kuat sama kafein, jadi sebaiknya jangan konsumsi kafein. Tapi saya nya aja yang bandel. Masa sih jadi nggak boleh minum kopi sama sekali? Emang nggak bisa diakalin?

Oh yes ternyata bisa kok saya akalin. Ini menurut pengalaman saya sendiri sih dan so far perut saya aman-aman aja “ngopi” dengan cara berikut:

croissants-698873_1280

Not Drinking My Coffee in An Empty Stomach

Jadi nggak ada ceritanya saya sarapan pagi pakai kopi seperti kebanyakan orang. Fix cari penyakit itu sih kalau saya. Asupan kafein saya di pagi hari cukup dengan segelas teh aja.

Bahkan akhir-akhir ini saya mulai bikin rules sendiri, “no coffee before 10 AM”. Kenapa jam 10? Karena sepertinya di jam-jam segitu perut saya udah mulai “friendly” dikasih apapun juga hehe.

coffee-cup-1081867_640

Choose Decaf or Half Decaf if Available

I am so happy to know that the decaf version is also available for instant coffee, and easily bought in any supermarket here. Sedangkan sepertinya di Indonesia, kopi instan belum ada yang versi decaf. Jadi minum kopi decaf cuma bisa pas ngopi di kafe aja deh.

adult-1852965_1280

I Add Milk/Chocolate to My Coffee

Saya agak menghindari kopi hitam pure. Kalau nggak kepepet banget , as if, sangat ngantuk tapi harus begadang dan nggak ada pilihan lain, baru deh mau. Selain kurang asik, kopi hitam kok kayaknya lebih “nendang” di saya. Jadi kadang-kadang malah bikin deg-degan banget. Seringnya sih ditambah susu/coklat.

Akhir-akhir ini, saya lagi ketagihan Trung Nguyen G7 Gourmet Coffeemix 3in1. Pertama kali coba ini di Vietnam dan ketagihan. Padahal pas di Vietnam sendiri, saya agak nggak kuat minum black drip coffee nya. Tapi kalo kopi instan yang ini sih untungnya aman-aman aja perutnya. Serius ini enakk banget.

May the coffee be with you! 🙂

sign

Saturday Morning in The Davies Park Market

As I’m living around campus, my neighborhood is mostly occupied by students, and weekend means shopping day for us the students family. It is very common to see us in the street with our shopping cart and shopping bags in the weekend. Here, cooking our own food is way cheaper than eating out. Therefore, most students here are cooking their own food and shop their own groceries.

Among all places to shop, I love this community market called Davies Park Market. Located in the Davies park, West End, this market is held every Saturday from 6 am to 2 pm. Quoted from their official website here, Davies Park Market is “A weekly community event featuring music with fresh produce and healthy fast food, fashion, and gifts under a canopy of glorious giant fig trees. Davies Park Market West End has a wide array of products and produce that you won’t find anywhere else in Brisbane”

Processed with VSCO with hb2 preset

You barely can find anything here, from the organic produce, flowers, handmade accessories, to the brow threading stall. I love local fresh products with the competitive price. Also, there are some stalls which sell Asian vegetables and fruits.

Processed with VSCO with c1 preset

Processed with VSCO with hb1 presetProcessed with VSCO with s3 preset

Bukan cuma buat belanja groceries, disini juga bisa nongkrong. Disini ada beberapa kedai kopi (yang setiap pagi, antriannya selalu nggak santai), bakery dan beragam jenis makanan & snacks.  Ada juga musisi lokal yang suka ditontonin disini.

Processed with VSCO with  preset

Overall, I love the ambiance of shopping here. Kadang-kadang terasa hectic karena ramai dan pilihan barangnya banyak. But it is a good crowded though. The sellers seem passionate with what they produced and sells, and buyers like me seem exciting in choosing each product to bought. Setiap kesana sebenarnya saya pingin banyak foto-foto tapi yang udah-udah sih ke distract belanja ini itu.

Kalau di Indonesia, konsep farmers market ini sepertinya belum terlalu familiar ya. Walaupun sebenernya ada juga beberapa event yang konsepnya serupa, tapi seringkali variasi produknya terbatas dan segmented sekali. Plus lokasinya masih di mall. Padahal kalo menurut saya, di ruang terbuka hijau gitu yang bikin tambah seru.

Terinspirasi dari Davies Park Market ini, saya jadi pingin buat event serupa nanti di Jakarta/Tangsel. Ada yang mau ikut bantuin, mungkin? 🙂

sign

My Cold Weather Product Essentials (and some wishlists)

coldweather product essentials

As you all know, Australia has some reverse weather. When most of the world are currently preparing for summer, we’ll face winter here. But it is still April, yes I know. As I get used to Jakarta’s weather, 20’s something degree celsius is breezing already for me.

My second week here in Brisbane, and I had what Indonesian called ‘masuk angin’ twice, chapped lips, and dry skin. My matte lip cream collections are no longer suitable for my chapped lips.

 It seems like the matte lipstick should be hiding in the drawer this season :(.

While I’m hiding my matte lipsticks, I should  befriend with these items which I will call my savior in this cold weather:

Paw Paw Ointment.

One of the best drugstore products for me. Indeed my savior. Not only for lips but also works well in my cracked heel.

Sukin Certified Organic Rose Hip Oil.

I’ve just bought it here to replace my night cream. I read somewhere that this oil is very good to be used as a night cream. But then the instructions told to use it twice daily or when required. Since I love how they moisture my face, I am starting to use it in the morning routine too. For a few minutes after used it, your face will be so oily. But then, several minutes later, the oily feeling will be gone. You can tap your face powder if still feels a bit oily. Works well for me tough.

Vaseline Intensive Care Advanced Strength.

Well, as mentioned in the name. This product works okay on my skin. However,  I think I still need more like body butter for the real winter next month.

Loccitane Pivoine Flora Hand Cream

 

Besides those products above, I actually need some more products to prepare my skin for the real winter season, which is:

Lush Lip Scrub

Lush Dark Angel cleansers

Jergens Crema Deep Conditioning Shea Butter

Sukin Hydrating Mist Toner

Rollover Reaction Flushed Lip and Cheek Stain

I’m actually not a fan of a glossy lip, but it is cold and my lips are chapped easily. That’s why  I need this kind of glossy lip stain (plus a cheek stain!). Since it is an Indonesian local product, I have to bought it online and luckily, I can ask the family member who’ll come here to bring it with them 🙂

Keep warm and keep moisture, dear people 🙂

sign

Cara Bikin Visa Dependent Student Australia

Jadi lebih dari seminggu kemarin mood nulis saya hilang. Gone. Lenyap. Puff..

Ditambah lagi ribet beresin urusan lalalili, mulai dari urus visa, tiket, hotel, asuransi, spt tahunan pribadi dan perusahaan, perpanjang sim dan lain-lain. Sekarang alhamdulillah udah beres semua. Termasuk perpanjang sim yang sempet deg-degan belum bisa diperpanjang karena masa berlaku masih 3 bulan lagi.

Sesuai janji saya waktu itu yaa, saya mau sharing proses saya apply visa.

Jadi  visa yang saya apply  itu istilahnya visa dependent student (untuk suami/istri student). Subclass nya 500, sama dengan subclass student. Tetapi work limitationnya tidak dibatasi, tidak seperti student yang dibatasi hanya 40 hours per fortnight. Fortnight itu dua minggu, yaitu 14 hari mulai dari Senin dan berakhir di hari Minggu depannya. Sayangnya juga untuk tarif transportation umum dll, dependent kena tarif normal, lebih mahal dari student hehe.

Sebagai dependent dari awardee Australia Awards Indonesia, visa saya diurusin dan dibayarin. Jadi jangan tanya berapa ya hehe. Cuma tetep ada beberapa hal yang saya dan suami harus urus sendiri. Basically, yang perlu dibutuhkan dalam aplikasi visa dependent adalah :

  1. Form visa yang saya pakai Form 157A, 956A dan 919. Kalau udah ada anak yang mau ikut ditambah dengan form 1229. Form-form ini bisa langsung di download di sini
  2. Foto ukuran 4×6 1 lembar berwarna
  3. Scan Asli Akte Nikah
  4. Copy visa student penerima beasiswa
  5. Copy passport dependent (halaman depan, belakang dan halaman lain yang ada isinya / signed)
  6. Scan Kartu Keluarga + Copy KTP Spouse (dependent)
  7. Bukti Asuransi Kesehatan untuk keluarga – Certificate OSHC
  8. Bukti Health Assesment Portal (HAP)
  9. Bukti surat penerimaan dari sekolah di Australia untuk anak apabila anak sudah usia sekolah (usia 5 tahun)
  10. Bukti keuangan apabila membawa anak lebih dari 2

Yak udah ada kan nih list nya. Trus mulai dari mana?

Nah kalau saya kemarin mulai dari no.8. dulu, yaitu bikin Health Assesment Portal. Kalau dari Australia Awards,saya dikasih panduannya untuk daftar medcheck. Sebelum dateng ke rumah sakit, saya buat yang namanya IMMIAccount . Setelah itu baru dapet HAP ID dan HAP letter. Nah si HAP letter itu deh yang kita bawa ke rumah sakit.

contoh HAP letter

Rumah Sakit mana aja?

Tentunya rumah sakit yang udah kerjasama dengan kedutaan. Kalau di Jakarta, ada dua RS yang bisa kita datangi, yaitu RS Premier Bintaro dan RS Premier Jatinegara. Kemarin saya di RS Premier Bintaro. Jangan lupa tetap telp ke RS sebelumnya ya untuk bikin appointment. Bilang juga kalau kita medcheck untuk keperluan visa Australia. Trus tinggal dateng deh bawa HAP Letter, paspor dan uang untuk bayar hehe. Karena untuk medcheck dependent nggak di cover beasiswa. Per Maret 2017 biayanya Rp.890.000.

Apa aja yang di cek di medcheck?

Lumayan basic sih. Cuma rontgen paru-paru, tes urine, tes mata, dan cek dokter. Pada saat cek dokter, jangan lupa konsultasi hasil apakah kita sehat semua. Katanya sih Australia sangat ketat untuk penyakit TBC, jadi kalau ada kecenderungan kesitu harus diobati dulu. Setelah saya dinyatakan sehat, baru pak suami bisa memenuhi list no.7 yang diatas.

OSHC itu apa?

OSHC itu Overseas Student Health Cover alias asuransi student selama disana. Untuk awardee/student tentunya dicover beasiswa. Tapi kalau dependent harus bayar sendiri. Dan ini wajib punya. Jadi pak suami waktu itu tinggal datang ke provider asuransi (yaitu Allianz) dan minta untuk upgrade jadi Dual Family. Dual Family itu mengcover 1 student dan 1 dependent. Kalau lebih dari 1 dependent (plus tambah anak), itu termasuk Multi Family. Per maret 2017 juga, biaya  upgrade ke Dual Family sekitar  A$ 3100 (untuk 20 bulan), sedangkan untuk Multi Family bisa sampai belasan ribu dollar :p

Setelah udah ada certificate OSHC?

Baru deh dilengkapi semua check list diatas.  Jangan lupa didownload form visa nya di sini yaa. Setelah semua form visa diisi dan dokumen lain lengkap, saya email ke Mas-mas Australian Award bagian urus mengurus visa.

Saya email kalo nggak salah tanggal 13 Februari dan visa jadi tanggal 28 Februari. Pembuatan visa sendiri biasanya sekitar 14 hari kerja.

Sedangkan untuk visa keluarga saya yang mau ikutan “nganter” sih, saya bikinnya pake bantuan travel aja.  Praktis. Biayanya kemarin Rp.1.818.000 per orang.

Berikutnya, saya posting tentang rencana itinerary saya di Sydney yaa 🙂

sign

 

SHINYA SHOKUDO – MIDNIGHT DINER TOKYO SERIES

As the day comes to end, and people make their way home, my own day begins.

My business hours start from midnight to 7am. People called my restaurants Midnight Diner

manga-shinya5-546x364

Cooking show or movie about food/cooks never bored me. There’s something about watching the food being prepared. The exaggerated sounds of onions being chopped, sizzle sounds from a very hot pan, vegetables sliced being stirred. It makes me calm and excited at the same time

Shinya Shokudo or Midnight Diner. A less than 30 minutes series which instantly become my favorite since the first episode. As the title said, Midnight Diner is about a side street diner in a small road in Japan which starts open in the midnight. The owner/chef is called by Master. Each story in every episode is not related to each other. The only thing related is only the street diner and the master itself.

In that small diner, there are always the sleepless customers who will share each other’s gossips, secrets, and tales. Sometimes they’re cravings for some food which instantly reminds them of some story in the past. You can find each episode focus on a new character and one dish theme. It is fun to know there are a lot of Japanese dishes which not served in the Japanese restaurant.

 All the characters are described uniquely and colorful.

One episode, there are Ochazuke sisters who struggle between keep their friendships while looking for a true love dream.

There is a successful porn movie star who loves to eat Potato Salad which secretly regrets his decisions.

There is also a cool yakuza guy who loves to eat his wiener sausage in octopus cut; befriend with an old man,  owner of a gay bar, who loves his Tamago with a bit of sugar.

Basically, the theme of the stories is very close to the reality, but most of the times it feels depressed and sad. But still interesting to watch and makes you smile at the end J. Plus, they gave some cooking tips regards to the one theme dish in that story.

Midnight Diner or Shinya Shokudo has three seasons (each season has 10 episodes) and one movie. In my opinion, watch the series first before heading to the Movie. Both movie and series have similar characters, but there is no characters introduction in the movie.

Since tomorrow is weekend, you should give this series a try. I guarantee that after watching this, you’ll craving for some Japanese food 😀

My favorite food theme in this series is Season 1 eps 5: Butter Rice. A super simple yet inspiring recipe to make the butter rice. It definitely makes me mouth watering 😀 😀

Quoted from this blog,

“If eating a particular dish has ever caused you to reflect on moments from your past, I absolutely recommend you give Shinya Shokudo a chance”

Happy watching  🙂

sign

There’s Nothing Wrong With You Being a Stay at Home Mom

stay-at-home-mom

Tulisan ini saya dedikasikan untuk banyak teman-teman terdekat saya yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka dan full time dirumah untuk mengurus anak. Saya sangat respect dan menghormati Stay at Home Mom (SAHM), sama besarnya rasa hormat dan respect saya untuk Working Moms. Saya yakin setiap keluarga, setiap individu, memiliki situasinya masing-masing untuk kemudian mengambil pilihannya masing-masing.

Tapi kemudian ide untuk menulis ini juga muncul dari obrolan saya dengan beberapa teman SAHM. Bahwa ternyata, hampir semua pernah dapet komen yang nggak enak.

“Sekarang Nggak Kerja? Sayang dong ya Ijasahnya”

“Ngapain kemaren sekolah tinggi-tinggi ya”

“Gelarnya sayang dong ya?”

Apa iya sekolah tinggi itu cuma demi ijasah dan gelar saja?  Demi biar bisa dapat pekerjaan saja? Apa iya jadi seorang ibu itu nggak boleh cerdas? Apa ruginya kalau seorang ibu itu pintar, dan kemudian bisa mendidik anaknya jadi sama atau bahkan lebih pintar?

Even I’m not a mom (yet), saya pernah mengambil keputusan untuk bekerja dari rumah. Just like everybody, I have my own reason and situation. Each of us has our own reason and situation.

Sure we can respect each other without saying a hurtful small talks, right 🙂

Kalau emang mau basa-basi, mbok ya basa-basi yang lain aja yang nggak nyakitin, contohnya

“eh udah lihat snapgram nya Raisa di IG Story nya Hamish?” :p

sign