Get Crikey in Australia Zoo

Processed with VSCO with  preset

Di tengah-tengah two days concert nya Ed Sheeran di Brisbane kemarin, dia sempet main-main ke Australia Zoo. Setelah baca artikelnya, saya jadi inget deh masih utang belum share tentang Australia Zoo.

Yang lumayan bikin Australia Zoo ini spesial adalah karena ownernya, yaitu Steve Irwin. Yes, that Steve Irwin yang terkenal sama jargonnya “Crikey” dan suka banget sama Crocodile. Nggak heran kalo Australia Zoo ini sampe dijulukin Home of The Crocodile Hunter. Koleksi crocodile nya buanyaak banget. Hewan-hewan nggak umum lainnya juga banyak mulai dari Meerkat, RIng-Tailed Lemur, Tazmanian Devil. Koala dan Kangguru sih udah pasti ada. Walaupun menurut saya, kalo mau puas main sama koala dan kangguru better ke Lone Pine Koala Sanctuary.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Australia Zoo ini lokasinya di Beerwah, Queensland. Lebih tepatnya di Steve Irwin Way. Yes, nama jalannya aja udah Steve Irwin Way. Sekitar 70an km dari Brisbane City. Jauh yaa? Cuma akses transportasi umum tetap ada dan nyaman kok. Dari Central Station Brisbane naik train tujuan Caboolture, turun di Caboolture Station dan lanjut Bis rute 649. Nanti turunnya persis di depan Australia Zoo. Kurang lebih 2 jam perjalanan lah. Detailnya bisa langsung cek web nya translink ya

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Tiket masuk nya lumayan pricey sih. $59 untuk Adult, $47 untuk Student dan $35 untuk Children. Tapi menurut saya worth it kok harga segitu. At least sekalii aja harus intip Australia Zoo ini.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Diantara Zoo yang pernah saya datengin di Aussie, Australia Zoo ini lumayan yang paling bagus. Bukan cuma karena variasi hewan atau show nya, tapi landscape dan scenery di zoo ini juga baguus banget. Di lahan sekitar 4- hektar itu bener-bener dibikin se-natural mungkin, disesuaikan sama habitat asli si hewan. Apalagi area yang Afrika. Cakeep. Sayangnya waktu saya kesana lagi banyak area yang ditutup untuk renovasi, tapi bisa ngintip sedikit sih, dan itu beneran cakeep.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Sebelum ke Australia zoo, saya saranin cek cek website nya dulu untuk cek interactive map dan jadwal showtime nya, biar bisa manage waktu dan puas dapetin semuanya. Bisa langsung klik ini untuk cek website nya ya.

sign

March On

lights-night-unsharp-blured

Hello! Ternyata udah lama juga ya saya nggak nulis disini. Postingan terakhir awal November tahun lalu, berarti udah kurang lebih 4 bulan saya nggak nulis.

So much happened in these last four months. Salah satu yang paling major adalah persiapan pindahan rumah di Brisbane. Pros : Lebih dekat kampus, lebih bagus rumahnya dan definitely lebih nyaman. Cons: Lebih mahal dan posisinya persis di “bukit”. Jadi perjalanan sehari-hari kami dari/menuju ke rumah ini pasti harus mendaki bukit. Welcome to betis berotot. I’m not complain though, saya emang anaknya harus dipaksa gini buat olahraga 😀

Speaking of pindahan rumah kos disini, sistemnya lumayan ribet. Mulai dari cari-cari info rumahnya, inspection, more inspection sampe mabok, filling out the application, more application sampe akhirnya aplikasi kita di approve  dan dapet rumahnya. Kalo di reject? Ya kembali ke tahap awal.

By the way, november sampai dengan februari kemarin adalah summer break nya suami. Jadi saya nggak nulis ini karena……. liburaan of course hehe.  Saya dan suami puas banget jalan-jalan plus kulineran sekitar Brisbane dan Quensland, spent our Christmas dan Boxing Day di Brisbane City, menikmati New Year’s Fireworks di pinggir Brisbane River, Southbank sampai akhirnya pulang ke Indonesia selama sebulan. Kurang puas sebenarnya cuma sebulan di Indonesia, tapi cukup lah temu kangen sama keluarga dekat, sahabat-sahabat dan tentunyaaa makan-makan.

Banyak deh sebenernya yang mau saya tulis disini, karena banyak tempat-tempat seru yang kami datangin selama liburan kemarin. Mulai dari The Australia Zoo nya Steve Irwin, Redcliffe yang famous dengan Bee Gees Way nya, sampai The Stradbroke Island yang cantiknya masya Allah. Nanti coba saya draft satu-satu deh, terutama yang Stradbroke Island. This place is sooo good that you all guys really need to see.

Anyway, kenapa judulnya March on? Since it is two days before March and “march on”can also meaning for moving forwards. Due to my blogging absence for these four months, this post is a symbol for me to keep moving forward? Get it? 😀

sign

Makan Meriah di Eat Street NorthShore, Queensland

Familiar dengan konsep dining place yang pake shipping container kan?

Kalau di Seoul ada Common Ground yang lagi hits, sedangkan di Jakarta ada  Food Container di Lebak Bulus dan Southbox di Prapanca Kemang dengan konsep serupa.

Di Queensland? Ada Eat Street Northshore

2017-10-28-07-31-31-1.jpg

Eat Street Northshore, salah satu tempat makan yang akan saya recommend buat yang lagi di Brisbane. Lokasinya di Macarthur Avenue, Hamilton, tepat di samping river. Dari suburbs tempat saya tinggal cukup naik Ferry CityCat aja sampai pmberhentian terakhir. Jalan kaki sekitar 600 meter udah langsung disambut container merah kuning biru Hello diatas.

Eat Street ini salah satu yang saya pingin banget datengin dari pertama kali saya di Brisbane, karena kalau cek instagramnya, makjang, banyak banget makanan yang pingin dicobain. Jadi ekspektasi saya kesana adalah mau makan sepuasnyaa. Nggak expect sama sekali kalo ternyata tempatnya cakep bangettt. Kirain cuma kaya foodcourt konsep shipping container gitu, eh ternyata super colorful dan meriah. Apalagi waktu itu pas Halloween.

Processed with VSCO with c1 preset

Untuk masuk area Eat Street, ada entrance fee sebesar $2,5 untuk adults 12 tahun keatas (Kids under 12 are free!). Pilihan makanannya buanyaak banget. Bar, snacks, heavy Meal sampai pilihan desserts nya lengkap kap. Asian food, European food, South American food, you named it, ada semua deh kayaknya. Kalau pusing liatin satu-satu, bisa mikir dulu dari rumah mau makan apa disana, cek menu nya disini

Waktu itu kebetulan kami berdua sama-sama tertarik sama makanan south american. Dari dua booth yang berbeda, kami pesan Argentine Ribs dan Peruvian Yellow Chicken (pardon the ‘not so pretty photos’) yang keduanya sama-sama pakai paella. Sedangkan dessertnya nyobain Nutella Icecream with Cronuts yang porsinya huge! Enak dan super kenyang!

Yang tambah bikin seru nongkrong di Eat Street ini adalah crowdnya! nggak cuma disuguhin makanan enak dan dekorasi yang meriah, disini juga ada beberapa area stage entertainment, seperti live music, street magician dan fire performers yang jalan-jalan. Eat Street is such a carnival.

2017-10-28-07-33-04-1.jpg

2017-10-29-07-36-07-2-e1509945357584.jpg

Processed with VSCO with s1 preset

Processed with VSCO with s3 preset

2017-10-28 07.33.49 1

Eat Street buka setiap weekend. Jum’at dan Sabtu dari jam 4 sore sampai 10 malam, sedangkan hari Minggu jam 11 sampai 8 malam. Tips dari saya, kalau kesini enakan sore-sore pas masih terang . Selain karena belum terlalu ramai dan masih nyaman untuk pilah-pilih makanan, buat foto-foto juga masih cakep banget. Ehem tapi ya pengecualian untuk yang berkamera kece untuk foto malem-malem yaa 😀

sign

 

 

[Book Review]: Paris For One, And Other Stories by Jojo Moyes

Processed with VSCO with  preset

Beberapa tahun  terakhir, saya sempat agak skeptical sama genre novel chicklit. Sudah sangat jarang beli novel genre ini, dan prefer baca thriller genre atau non-fiction sekalian. Kecuali untuk beberapa penulis favorit yang emang saya tungguin bukunya. Semenjak di Brisbane, berhubung ada fasilitas library yang koleksi bukunya lumayan lengkap, malah jadi baca genre ini lagi.

Ini buku Jojo Moyes pertama yang saya baca. Saya tau sih kalo bukunya Jojo Moyes ini lumayan hits tapi sebelumnya nggak pernah tertarik untuk beli. Sampai kemarin nemu buku ini di library. Jujur aja, salah satu yang bikin saya tertarik baca awalnya ya cover hardback nya hehe kebiasaan. Eh ternyata sukaaa juga ceritanya.

 (Baca: Dont (Sometimes, I) Judge A Book By Its Cover)

Paris for One And Other Stories. Buku ini dipublish pertama bulan Oktober 2016. Total ada 11 cerita di buku ini. Paris for One, Between the Tweets, Love in the Afternoon, A Bird in the Hand, Crocodile Shoes, Holdups, Honeymoon in Paris, Last Year’s Coat, Thirteen Days with John C, Margot dan The Christmas List. Paris for One adalah cerita pertama dan cerita yang paling panjang. Sisanya semacam short stories. Somehow, each stories in this book gives me different feelings. Good one. Ada cerita yang ending nya unpredictable, ada juga yang lumayan predictable tapi tetap menyenangkan untuk dibaca. Benang merah dari kesebelas cerita ini cuma perspektif dari tokoh utama perempuan tentang relationship mereka yang sedang bermasalah.

Dua favorit saya yaitu yang judulnya Crocodile Shoes dan Honeymoon in Paris. Crocodile Shoes ini somehow kayak meng-encourage perempuan (khususnya Ibu) untuk sedikit lebih bisa menikmati hidup dan percaya diri.

Sedangkan Honeymoon in Paris, ini adalah cerita kedua terpanjang setelah Paris for One. Ada dua latar belakang di cerita ini, Paris tahun 1912 dan tahun 2002. Cerita yang berbeda dengan tokoh yang berbeda juga. Cuma mirip alurnya, dan keduanya sama-sama terkait dengan honeymoon di Paris. Saya suka alur dan pemilihan kata-katanya, khususnya untuk cerita yang tahun 1912. Walauu

Setelah membaca sampai selesai buku ini, saya langsung setuju dengan salah satu komentar di bagian cover belakang buku ini, yang menurut saya benar-benar menggambarkan buku ini yaitu:

“Moyes somehow manages to break your heart before restoring your faith in love”

Sunday Express

Jadi pengen baca bukunya Jojo Moyes yang lain 🙂

sign

Punya Gochujang, Mau Dimasak Apa yaa?

Siapa disini yang suka tiba-tiba ngiler pas lagi nonton drama / tv show korea kayak sayaa? 🙂 Berhubung saya anak nya gampang pengenan, jadi sering banget kalo lagi nonton acara-acara korea itu yang lagi ada scene makan-makannya pasti ngiler hehe. Apalagi baru-baru ini saya nonton drama korea yang judulnya Let’s Eat. Yha judulnya aja udah gitu kaan haha.

Menurut saya, beberapa hal yang bikin ngiler pas nonton oppa/unnie itu makan di tv adalah cara makan mereka yang sluurput2 gituu. Ndemena’ne kalo kata orang Jawa hehe. Dan satu lagi, yaitu mostly makanan mereka warnanya merah menggoda gitu kan. Warna merah menggoda nya itu dari Gochujang, atau chili paste khas Korea. Ada yang udah pernah coba? Rasanya yang manis pedes gitu emang bikin ketagihan(nggak ada apa-apanya sih pedesnya kalo dibandingin sama cabe rawit), dan Gochujang ini hampir selalu di pake sebagai bumbu marinades, saus, di sup-sup an, stew, salad dan lain-lain.

Saya berencana mau nyetok gochujang di dapur, tapi sebelumnya saya cari-cari dulu resep makanan dengan gochujang yang simple. Simple dalam hal bahan-bahannya udah tersedia di dapur saya, dan nggak perlu khusus cari di supermarket korea lagi. Anyway, saya mau share ya hasil googlingan saya tentang resep-resep makanan apa aja yang pakai gochujang..

BIBIMBAP

 

bibimbap-recipe-2
Source: Thewoksoflife

 

TTEOKBOKKI

Tteokbokki-1
Source: thetummytrain

 

KOREAN POPCORN CHICKEN

 

4.-Korean-style-popcorn-chicken (1)
Source: mykoreankitchen

 

BAKED KOREAN CHICKEN WINGS

 

Baked-Korean-Gochujang-Chicken-Wings-8
Source: jeanetteshealthyliving

 

GOCHUJANG TUNA MELT ONIGIRI

 

gochujang-tuna-melt-onigiri08
Source: ladyandpups

 

SPICY MISO RAMEN

 

spicy miso ramen
Source: hungrygirlporvida

 

TOFU AND KIMCHI STEW

 

tofu-and-kimchi-stew
Source: bonappetit

 

SPICY GRILLED SQUID

 

spicy grilled squid
Source: koreanbapsang

 

Udah cukup menggiurkan beloom foto makanan merah-merah diataas?

Selamat masaak…

sign

Ide Desain Home Office Yang Inspiratif

Selamat hari Senin!

Salah satu cita-cita saya dan suami di rumah kami adalah ada satu ruangan atau pojokan khusus untuk home office dan mini library. Kebetulan di rumah itu akan ada tiga kamar, dua di lantai atas dan satu di lantai bawah. Berhubung space yang terbatas, rencana awal kami pingin bikin kamar di lantai bawah itu jadi ruangan multi fungsi, yaitu home office/library, dan guest room jadi satu. Padahal rumahnya belum juga jadi, tapi kita udah muluk-muluk puyeng mikir desainnya hehe.

Semakin terinspirasi cari desain home office yang chic dan fungsional setelah baca bukunya Emily Schuman yang Cupcakes and Cashmere at Home. Menurut si Emily ini, home office itu harus nyaman, inspiring dan nggak terlalu kaku layaknya ruang kantor beneran. Setuju sih. Maka dari itu, desain home office/library ini lagi kita pikirkan banget. Walaupun sebenarnya pak suami sih ikut aja saya maunya gimana. Syarat dari dia tetep harus minimalis dan nggak warna-warni gonjreng.

Okaay then, here are few of home office designs that I really consider to use…

HOME OFFICE FOR TWO, PLEASE..

… agar saya dan suami punya space kami masing-masing, termasuk untuk storage kerjaan/dokumen masing-masing.

double desk 2
Source: Homedesigning


That patterned wall and the hanging copper lamp catches my eye! Ide lampu gantung nya boleh banget sih. Dibandingkan dengan lampu meja, lampu yang digantung gini saving space banget. Jadi bisa naro yang lain deh di meja nya.

 

double desk 3
Source: Lushome


Ide meja built-in bentuk L di pojokan gini juga ciamik buat saving space. Jadi akan ada lebih banyak space di belakangnya, either untuk rak-rak buku tambahan atau.. oh! bisa juga untuk mini musholla/area sholat.

 

double desk 1
source: betruebaby

Not only for two. Actually it fits four. Yang di tengah bisa dipakai juga untuk anak-anak ngerjain PR nya disitu. Atauu bisauntuk meja snacks dan kopi. Jadi nggak khawatir numpahin kerjaan.

COLOR PALETTE: MONOCHROME OR WHITE-NATURAL WOOD?

 

monochrome 2
Source: homeyohmy

 

monochrome 1
Source: Nyde

Kontras antara warna dinding, meja, kursi, lampu meja, sampai dengan printilan stationery nya terlalu irresistable. Tinggal pilih nih mau banyak nuansa hitam atau putih. 

Tapii … As much as I love monochrome, I have to admit that the combination between white and natural wood is somehow peaceful, serene and also inspiring. Perfectly shows by these both designs.

 

natural wood color 1
Source: decor8blog

 

 

Real Home for 91 Magazine
Source: 91magazine

 

And last but clearly not least…

THE ACCESSORIES! 

Setelah layout dan color palette, yang paling penting juga yha inii. Karena design-design di atas tidak akan secantik itu kalo dia cuma polos-los, nggak ada printilan unyu nya. Well, I think that these kind of accesories are a must for my next home office. It would be…

  1. This IT trellis board 

 

board besi item
Source: Theeverygirl

 

 

inspiration board
Source: Apartmentherapy

 

Teralis board hitam seperti diatas kayaknya akhir-akhir ini cukup hits muncul dimana-mana ya fotonya. bisa dimanfaatkan di home office dan bahkan di dapur. Simpel tapi efektif buat gantung-menggantung. Temasuk untuk bikin moodboard / inspiration jadi lebih modern daripada cuma pakai board biasa. Saya pernah lihat produk semacam ini di IKEA Indonesia, tapi sepertinya udah nggak ada pas saya cek lagi di website nya. Eh tapi di IKEA Aussie masih ada sih, nama produknya Barso Trellis , dan $15 sajaa. Beli apa ya disini trus bawa pulang ke Indo :p

2. Floating Shelves aka Ambalan

 

15ed8e3d51814598149bff98eedf97470c55700f
Source: decoist

 

 

floating shelves
Source: homeyohmy

 

3. Inspiring Quote As The Wall Art

 

wall art
Source: Theglitterguide

 

3. Chic Stationery

 

pretty stationery
Source; Jdluxedesigns

 
Tiga merk stationery dan perintilan decor favorit saya : Kikki K, Typo dan Kmart ; dan ketiganya belum ada di Indonesia dan ada di Brisbane semua. Sepertinya harus nyicil beli dulu disini sebelum back for good hehe

Okay fix mulai nabung deh demi mewujudkan home office impian (…. dan juga dapur impian, kamar tidur impian, endebra-endebra… ) 🙂

sign

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Don’t (Sometimes, I) Judge A Book by Its Cover

Untitled-3

Jadi beberapa minggu lalu, saya baru main-main ke Brisbane City Library. Ternyata seru banget deh. Koleksi buku nya juga lumayan lengkap. Ketentuan untuk minjem buku nya juga seru banget. Sekali pinjam bisa sampai maksimal 20 buku, untuk jangka waktu sebulan kalau nggak salah. Langsung deh saya nge-list mau pinjem buku apa aja, dan sebelumnya liat review nya dulu di Goodreads. Anyone here a Goodreads user? Mine is https://www.goodreads.com/danuriaparamastri

It’s been a long long time since I updated my Goodreads profile again. Sebenernya sih saya lebih sering pake goodreads untuk cek review buku, dan untuk liat ada buku baru apa yang jadi favorit orang-orang.  Last time I checked their recommendation, there are several  books (some are newly published and some are not) I found interesting to read. Dalam hal cover buku dan preview isinya, oh well mostly sih karena cover nyaa.

Iya saya sering pilih buku based on covernya. Apalagi kalau penulisnya saya belum kenal atau belum pernah baca karya sebelumnya. Anywaay, ini list buku-buku yang baru aja masuk “want to read” list saya pribadi. Covernya gemes dan preview isinya juga menarik deh. Bisa langsung klik di cover image nya untuk cek detailnya di Goodreads ya

Jolie Kerr

My Boyfriend Barfed In My Handbag – And Other Things You Can’t Ask Martha By Jolie Kerr

11855663

The Perfectly Imperfect Home: How To Decorate And Live Well By Deborah Needleman & Virginia Johnson (Illustration)

6422680

 Lunch in Paris: A Love Story with Recipes by Elizabeth Bard

31434883

  Eleanor Oliphant is Completely Fine by Gail Honeyman

33280160

      What We Lose by Zinzi Clemmons

32969150

      Stay With Me by Ayobami Adebayo

32508637

See What I Have Done by Sarah Schmidt

32969710

What She Ate: Six Remarkable Women and The Food That Tells Their Stories by Laura Shapiro

13526165

 Where’d You Go Bernadette by Maria Semple

33503580

The Wangs vs The World by Jade Chang

 Jadii, ada yang kayak saya nggak, suka baca buku based on covernya dulu? 😀

sign